Friday, September 09, 2005

save me a place

aku kirimkan ini
pada udara,
aku jejakkan jemariku
pada dinding kamar.
dan kutatap
langit yang kokoh..
luas...
jauh,
buntu.
harus kemana?
agar kau tau.
ku hembuskan ruh ini
pada udara
ruh yang kuharap
akan senantiasa
berada di nafasmu.

Aug 18'05
23:03

Monday, August 22, 2005

Angsana dan Gadis Penjual Es

ada sebuah cerita tentang sebuah pohon angsana.
pohon itu terlalu rindang, hingga di buat lah beberapa bangku di bawahnya.
tiap orang datang dan duduk silih berganti. sehari entah berapa orang yang sudah singgah, tak pernah ada yang menghitung.
di pohon yang juga kokoh itu, banyak yang sudah mengguratkan namanya, mungkin agar terus saja abadi di situ.
banyak juga yang menjadikan angsana itu sebagai tempat janji bertemu. entah sudah berapa banyak jiwa yang bercerita padanya.
setahun, dua tahun...hingga lebih dari 10 tahun, angsana tetap berdiri tegak.
hanya beberapa ruas ranting yang dipotong untuk dirapikan.
suatu ketika, angsana itu lenyap.
pembangunan dan pelebaran jalan membuatnya harus ditebang.
seorang gadis kecil penjual es, mendapati penebang pohon telah menggarap angsana itu. si gadis pun hanya memandang sambil lalu, kemudian berjalan lagi menjajakkan jualannya.
hari kedua gadis kecil itu masih menyaksikan beberapa orang bekerja membersikan sisa tebangan.
hari ketiga, masih dengan jualannya, gadis kecil meliahat para pekerja sudah mulai mengerjakan jalan yang akan diperlebar.
hari keempat, jalan yang dibuat diaspal.
keesokan harinya, jalan itu sudah mulus.
mulus. lebar dan lebih luas.
dari kejauhan, si gadis kecil sudah merasa lapang melihat nya.
tidak terasa sebulan sudah berlalu, yang sangat terasa ialah udara yang semakin panas.
gadis kecil berjalan kembali menjajakan es yang dijualnya setiap hari. es yang dibawanya, ternyata tetap tidak sanggup menyeka keringat akibat terik mentari. dalam hati gadis kecil berandai-andai, andai saja angsana itu masih ada...
sekarang, ia tak lagi bisa menjajakkan es di situ. padahal dulunya, ia dapat dengan mudah berjualan. orang datang dan pergi silih berganti. mereka yang kehausan, yang butuh es untuk menyeka kerongkongannya yang kering. yang butuh berlindung dari tidak bersahabatnya matahari.
mereka yang menunggu kisah selanjutnya di bawah angsana. mereka yang menepati janji dan yang menanti janji.
tapi, kini tiada lagi. semua seakan lenyap bersama hilangnya angsana.
enam bulan kemudian, pemerintah kembali menggalakkan penghijauan jalan.
tempat angsana semula yang dipakai untuk pelebaran jalan, kini di sisi-sisi nya ditanami dengan beraneka bunga taman. indah, berwarna-warni.
tapi mereka tak lebih tinggi dari perdu. dan tetap masih tak memiliki bangku di sisi-sisinya. yang ada hanya warna-warni yang mencolok mata. indah tapi tidak indah.
setahun kemudian, hamparan bunga warna-warni itu dilengkapi dengan bangku taman.
banyak juga orang yang datang silih berganti.
tapi tempat itu masih terasa panas, matahari belum bersahabat. hanya kala sore dan malam hari, bangku taman itu begitu nyaman.
hanya saja masih kurang. tidak ada tempat untuk mengguratkan nama, membuat prasasti pribadi, yang hanya diri sendiri yang mengerti. masih belum cukup bangku taman itu.
dua puluhtahun kemudian, di tempat yang sama, telah berdiri kokoh dua angsana. lebih rindang, lebih tegap, lebih bersahaja.
tapi, tidak lagi satu, melainkan dua.
di antaranya dibuat bangku taman yang bukan main cantiknya.tentu saja setiap orang dapat berkunjung, menikmati udara antara panas dan sejuk dibawahnya. semua orang dapat bebas datang dan pergi. tentu saja, semua orang yang datang juga dapat mengguratkan namanya, atau nama siapapun pada nadi kedua angsana itu.
dan semua nya juga bebas bertemu janji disitu. semua boleh dilakukan.

seorang wanita, memarkirkan mobilnya tak jauh dari tempat itu.lalu berjalan perlahan menghampiri angsana. duduk di bangku taman, merabai dinding-dinding kayu angsana, mungkin mencari guratan namanya, mungkin...
kemudian sedikit menjauh. dari balik kacamata hitamnya wanita itu memandang sejurus pada kedua angsana, bergantian.

hatinya bercerita sendiri,
dulu, 31tahun yang lalu, jalan itu belum lebar. masih kecil dan disisinya terdapat parit yang cukup besar, nyaris seperti sungai, tapi belum. dan disitilah ia ditemukan, dalam sebuah ember plastik berwarna biru, dibungkus kain batik coklat. seorang pemulung yang menemukan.
lalu, tiga tahun setelahnya, tepat dibawah pohon angsana yang hanya satu dulu, bapak angkatnya dikuburkan.
dan enam tahun hingga dua belas tahun setelah nya, angsana itu menjadi sumber penghidupan baginya.
setelah itu, nasib menemukannya dengan seseorang yang juga sangat merasa kehilangan pada angsana. pelebaran jalan ternyata mebawa luka yang cukup dalam.
seorang ibu yang ditinggal mati anaknya dan banyak menyimpan kenangan dengan angsana, karena disitulah setiap hari ia menunggu anaknya pulang sekolah, dan dari bangku dibawah angsana lah dia menyaksikan anaknya tewas terlindas kendaraan di jalan.
kemudian, ibu itu mengangkatnya sebagai anak.

angsana telah tumbuh. bukan hanya satu. melainkan dua. tapi, tetap tidak dapat menggantikan angsana yang sebuah.
persahabatan dijalin, bersahabat dan bertempur dengan waktu.
sahabat datang dan pergi silih berganti.
tapi, seorang sahabat, tetap tidak dapat digantikan dengan apapun dan dengan siapapun! dengan siapapun.
dia harus dia.

aug 19'05
3:25 PM

Tuesday, August 16, 2005

Jalang

aku melihat wajah-wajah lagi
wajah-wajah yang sangat aku kenali
dua,tiga..atau empat
tahun lalu.
aku tak ingat persis.
aku ingin wajah itu
sebagaimana adanya.
bibirnya tak lagi lacur
wajahnya tak lagi bersemu
matanya tak lagi jalang
dadanya..
tak lagi mengumbar..
aku ingin wajah itu
senaif dulu..
jangan buat aku berdecak
buat aku tersenyum
wajah yang datang dan pergi.

Aug 10'05
23:08

Saturday, August 06, 2005

Adzan

aku ingin memilih Dia
jika dia dapat mencumbu ku,
aku lebih memilih Dia.

Sunday, July 31, 2005

Manusa Diarcapada

bergerak cepat..
berlari dan bergerak cepat.
menoleh, terkesiat dan bergerak cepat.
cepat..!
bergerak cepat.
pendar-pendar gmerecak.
pergi!
lantas bergerak cepat
bumi sudah basah
tinggal gemerecak berkilatan.
bergerak,
cepat.